Jumat, Maret 21, 2014

Cerita Fiksi

Cerita fiksi

Adalah cerita tentang hidup dan kehidupan manusia dan kemanusiaan, yang semuanya dituliskan secara prosais.

Jika dilihat dari segi penulisan, cerita fiksi ditulis dengan cara memenuhi seluruh halaman, kecuali bentuk dialog yang ditulis sepenggal-sepenggal berdasarkan ujaran tokoh. Hal ini merupakan karakteristik format penulisan fiksi yang membedakannya dengan puisi.




CERPEN DAN NOVEL
Cerpen adalah karya sastra berbentuk prosa yang isinya mengisahkan sepenggal kehidupan tokoh yang penuh pertikaian, mengharukan atau menyenangkan dan mengandung kesan tunggal yang tidak mudah dilupakan.
Novel adalah karangan yang mengisahkan sisi utuh atas problematika kehidupan seseorang atau beberapa tokoh.

Perbedaan antara cerpen dengan novel:
CERPEN
NOVEL
Dimuat dalam berbagai majalah atau surat kabar
Terbit dalam sebuah buku
Ceritanya tidak panjang
Ceritanya kompleks
Hanya terdiri atas beberapa halaman
Terdiri atas puluhan bahkan ratusan halaman
Habis dibaca sekali duduk
Menghabiskan waktu beberapa lama untuk membacanya
Hanya bercerita mengenai hal-hal penting dan tidak sampai pada detil-detil kecil
“Pengoperasiannya” diungkapkan secara lebih detil sehingga terlihat lebih realistik, meyakinkan, dan mampu memberikan sebuah gambaran yang lebih utuh tentang kehidupan

Persamaan cerpen dan novel:
  1. Merupakan karya yang bergenre fiksi
  2. Hadir di hadapan pembaca untuk menampilkan cerita
  3. Sama-sama dibangun oleh berbagai unsur intrinsik yang sama

Unsur intrinsik cerita fiksi:
    a. Tema
Hakikat tema adalah gagasan yang mengikat cerita, dasart pengembangan sebuah cerita, sesuatu yang menjadi pokok pembicaraan, gagasan pokok yang mendasari cerita. Dengan kata lain tema adalah maknya yang mengikat keseluruhan unsur ceirta sehingga cerita itu hadir sebagai sebuah kesatuan yang padu.
Karena berfungsi mengikat keseluruhan aspek cerita secara padu dan sinergis, tema juga dipahami sebagai gagasan (ide) utama atau makna dari sebuah tulisan.
Dengan menggunakan pertanyaan “apa artinya itu semua” atau “apa maksudnya” atau pertanyaan-pertanyaan yang sejenis, hal itu berarti mempertanyakan tema.

    b. Tokoh
Tokoh cerita adalah pelaku yang dikisahkan perjalanan hidupnya dalam cerita fiksi.
Tokoh cerita tidak harus berwujud manusia, melainkan juga dapat berupa binatang atau suatu objek yang lain yang biasanya merupakan bentuk personifikasi manusia.
Jenis-jenis tokoh:
1) Berdasarkan keasliannya
a) Rekaan: bukan merupakan tokoh yang secara faktual dapat ditemukan di dunia nyata atau di dalam sejarah (imajinatif)
b) Sejarah: tokoh yang sebagian jati dirinya berasal dari tokoh nyata
2) Berdasarkan sifatnya
a) Protagonis: tokoh yang berkarakter baik dan yang membawa misi keberanian
b) Antagonis: tokoh yang berkarakter jahat dan yang berseberangan dengan tokoh protagonis karena membawa kejahatan atau malapetaka
3) Berdasarkan sifat (seupa dengan protagonis dan antagonis)
a) Putih: tokoh yang berkarakter baik dan sekaligus membawakan dan memperjuangkan nilai-nilai kebenaran
b) Hitam: tokoh yang berkarakter jahat dan sbeagai pemicu konflik
4) Berdasarkan kompleksitas karakter
a) Datar: tokoh yang hanya memiliki karakter yang “itu-itu” saja dan termausk tokoh yang kurang penting
b) Bulat: tokoh yang memiliki banyak karakter dan adakalanya bersifat tidak terduga
5) Berdasarkan perkembangan karakter
a) Statis: tokoh yang tidak mengalami perkembangan dan perubahan karakter (kalau baik akan baik terus, dan sebaliknya)
b) Berkembang/dinamis: tokoh yang mengalami perubahan dan perkembangan karakter sejalan dengan alur cerita

    c. Penokohan/perwatakan
Hakikat penokohan adalah karakter yang dimiliki oleh seorang tokoh dalam sebuah cerita.
Adanya identitas jati diri yang menyebabkan tokoh yang satu berbeda dengan tokoh-tokoh yang lain. Yang membedakan antartokoh adalah kualifikasi “mental” dan “fisik”.
Pengungkapkan penokohan:
Cara Ragaan (showing)
Cara Langsung (telling)
Watak tidak diuraikan secara serta-merta, melainkan diungkapkan secara terselubung lewat cerita.
Karakter tokoh diungkapkan dengan “diuraikan” secara langsung oleh pengarang.
Pembaca dipersilakan untuk menafsirkan perwatakan yang dimiliki oleh seorang tokoh dari:
·         pikiran tokoh
·          dialog/ucapan tokoh
·          tingkah laku/tindakan tokoh
·          lingkungan sekitar tokoh
·          reaksi/tanggapan dari tokoh lain
·          keadaan fisik tokoh
Misalnya: “Sinta seorang anak manis yang baik. Ia anak yan grajin, tidak pernah berbuat nakal, suka membantu ibu, dan rajin belajar.”

    d. Alur/plot
Alur adalah rangkaian peristiwa yang terjadi berdasarkan hubungan sebab akibat sebagaimana ditunjukkan oleh tokoh lewat aksi.
Tahapan atau bagian alur:
  1. Situation: pengarang melukiskan kejadian
  2. Generation circumstance: peristiwa menunjukkan adanya gerak
  3. Rising action: keadaan mulai tegang/memuncak
  4. Klimaks: peristiwa mencapai puncaknya
  5. Donouvement: pengarang memberikan pemecahan masalah dari semua peristiwa

  Jenis-jenis alur:
1) Alur maju (alur lurus)
Rangkaian peristiwanya bergerak maju dari awal ke akhir (kronologis)
2) Alur mundur (alur flashback)
Rangkaian peristiwanya bergerak mundur dari akhir ke awal (set back)
3) Alur campuran (maju-mundur)
            Rangkaian peristiwa bergerak secara acak.

    e. Latar/setting
Latar ialah penempatan waktu dan tempat beserta lingkungannya dalam prosa fiksi. Unsur latar dapat dibedakan ke dalam tiga unsur pokok, antara lain sebagai berikut:
1) Latar Tempat: mengacu pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Unsur tempat yang dipergunakan mungkin berupa tempat-tempat dengan nama tertentu serta inisial tertentu.
2) Latar Waktu: berhubungan dengan masalah ” kapan ” terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Masalah ”kapan” teersebut biasanya dihubungkan dengan waktu.
3) Latar Sosial: mengacu pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi. Tata cara kehidupan sosial masyarakat mencakup berbagai masalah dalam lingkup yang cukup kompleks serta dapat berupa kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir dan bersikap. Selain itu latar sosial juga berhubungan dengan status sosial tokoh yang bersangkutan.

    f. Sudut pandang/point of view
Sudut pandang adalah cara memandang tokoh-tokoh cerita dengan menempatkan dirinya pada posisi tertentu.
Ada beberapa pertanyaan yang dapat digunakan untuk membedakan sudut pandang. Pertanyaan tersebut antara lain sebagai berikut:
1) Siapa yang berbicara kepada pembaca (pengarang dalam persona ketiga atau pertama, salah satu pelaku dengan ”aku”, atau seperti tak seorang pun)?
2) Dari posisi mana cerita itu dikisahkan (atas, tepi, pusat, depan atau berganti-ganti)?
3) Saluran informasi apa yang dipergunakan narator untuk menyampaikan ceritanya kepada pembaca (kata-kata, pikirn, atau persepsi pengarang; kata-kata, tindakan, pikiran, perasaan, atau persepsi tokoh)?
4) Sejauh mana narator menempatkan pembaca dari ceritanya (dekat, jauh, atau berganti-ganti)?
Selain itu pembedaan sudut pandang juga dilihat dari bagaimana kehadiran cerita itu kepada pembaca: lebih bersifat penceritaan, telling, atau penunjukan, showing, naratif atau dramatik.
Pembedaan sudut pandang yang akan dikemukakan berikut berdasarkan pembedaan yang telah umum dilakukan orang yaitu bentuk persona tokoh cerita: persona ketiga dan persona pertama.
1)       Sudut pandang persona ketiga : ”Dia”
Pengisahan cerita yang menpergunakan sudut pandang persona ketiga gaya ”Dia”, narator adalah seorang yang berada di luar cerita yang menampilkan tokoh-tokoh cerita dengan menyebut nama, atau kata gantinya: ia, dia, mereka.
Sudut pandang ”dia” dapat dibedakan ke dalam dua golongan:
a)       ”Dia” mahatahu
Dalam sudut pandang ini, cerita dikisahkan dari sudut ”dia”, namun pengarang, narator dapat menceritakan apa saja hal-hal yang menyangkut tokoh ”dia” tersebut. Narator mengetahui segalanya, ia bersifat mahatahu (omniscient). Ia mengetahui berbagai hal tentang tokoh, peristiwa, dan tindakan, termasuk motivasi yang melatarbelakanginya. Ia bebas bergerak dan menceritakan apa saja dalam lingkup waktu dan tempat cerita, berpindah-pindah dari tokoh ”dia”yang satu ke ”dia” yang lain, menceritakan atau sebaliknya ”menyembunyikan” ucapan dan tindakan tokoh, bahkan juga yang hanya berupa pikiran, perasaan, pandangan, dan motivasi tokoh secara jelas, seperti halnya ucapan dan tindakan nyata.
b)       ”Dia” terbatas/”Dia” sebagai pengamat
Dalam sudut pandang ”dia” terbatas, seperti halnya dalam”dia”mahatahu, pengarang melukiskan apa yang dilihat, didengar, dialami, dipikir, dan dirasakan oleh tokoh cerita, namun terbatas hanya pada seorang tokoh saja atau terbatas dalam jumlah yang sangat terbatas. Tokoh cerita mungkin saja cukup banyak, yang juga berupa tokoh ”dia”, namun mereka tidak diberi kesempatan untuk menunjukkan sosok dirinya seperti halnya tokoh pertama.
2)       Sudut pandang persona pertama: ”Aku”
Gaya ”aku”, narator adalah seseorang yang ikut terlibat dalam cerita. Ia adalah si ”aku” tokoh yang berkisah, mengisahkan kesadaran dirinya sendiri, mengisahkan peristiwa atau tindakan, yang diketahui,dilihat, didengar,dialami dan dirasakan, serta sikapnya terhadap orang (tokoh) lain kepada pembaca. Jadi, pembaca hanya dapat melihat dan merasakan secara terbatas seperti yang dilihat dan dirasakan tokoh si ”aku” tersebut.
a)       ”Aku” tokoh utama
Dalam sudut pandang teknik ini, si ”aku” mengisahkan berbagai peristiwa dan tingkah laku yang dialaminya, baik yang bersifat batiniah, dalam diri sendiri, maupun fisik, hubungannya dengan sesuatu yang di luar dirinya. Si ”aku”menjadi fokus pusat kesadaran, pusat cerita. Segala sesuatu yang di luar diri si ”aku”, peristiwa, tindakan, dan orang, diceritakan hanya jika berhubungan dengan dirinya, di samping memiliki kebebasan untuk memilih masalah-masalah yang akan diceritakan. Dalam cerita yang demikian,si ”aku” menjadi tokoh utama (first person central).
b)       ”Aku” tokoh tambahan
Dalam sudut pandang ini, tokoh ”aku” muncul bukan sebagai tokoh utama, melainkan sebagai tokoh tambahan (first pesonal peripheral). Tokoh ”aku” hadir untuk membawakan cerita kepada pembaca, sedangkan tokoh cerita yang dikisahkan itu kemudian ”dibiarkan” untuk mengisahkan sendiri berbagai pengalamannya. Tokoh cerita yang dibiarkan berkisah sendiri itulah yang kemudian menjadi tokoh utama, sebab dialah yang lebih banyak tampil, membawakan berbagai peristiwa, tindakan, dan berhubungan dengan tokoh-tokoh lain. Setelah cerita tokoh utama habis, si ”aku”tambahan tampil kembali, dan dialah kini yang berkisah. Dengan demikian si ”aku” hanya tampil sebagai saksi saja. Saksi terhadap berlangsungnya cerita yang ditokohi oleh orang lain. Si ”aku” pada umumnya tampil sebagai pengantar dan penutup cerita.

    g. Amanat/pesan/moral
Moral, amanat, atau pesan dapat dipahami sebagai sesuatu yang ingin disampaikan kepada pembaca.


DRAMA
  1. Alur: adalah jaringan atau rangkaian yang membangun atau membentuk suatu cerita sejak awal hingga akhir. Urutan alur terdiri atas 5 fase, yakni : (1) perkenalan, (2) awal masalah, (3) menuju klimaks, (4) klimaks, (5) penyelesaian.
  2. Amanat: adalah segala sesuatu yang ingin disampaikan pengarang, yang ingin ditanakannya secara tidak langsung ke dalam benak para penonton dramanya. Amanat di dalam drama ada yang langsung tersurat, tetapi pada umumnya sengaja disembunyikan secara tersirat oleh penulis naskah drama yang bersangkutan. Hanya pentonton yang profesional aja yang mampu menemukan amanat implisit tersebut.
  3. Bahasa: yang digunakan dalam drama sengaja dipilih pengarang dengan titik berat fungsinya sebagai sarana komunikasi.
  4. Dialog: adalah mimetik (tiruan) dari kehidupan keseharian. Dialog drama ada yang realistis komunikatif, tetapi ada juga yang tidak realistis (estetik, filosopis, dan simbolik). Diksi dialog disesuaikan dengan karekter tokoh cerita.
  5. Latar: latar adalah tempat terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah drama. Latar tidak hanya merujuk kepada tempat, tetapi juga ruang, waktu, alat-alat, benda-benda, pakaian, sistem pekerjaan, dan sistem kehidupan yang berhubungan dengan tempat terjadinya peristiwa yang menjadi latar ceritanya.
  6. Petunjuk Teknis: adalah rambu-rambu yang sengaja dicantumkan oleh seorang penulis naskah drama sebagai penuntun penafsiran bagi siapa saja yang ingin mementaskannya. Petunjuk teknis dalam naskah drama bisa berupa paparan tentang adegan demi adegan, profil tokoh cerita, latar cerita (tempat adegan) tata lampu, tata musik, tata panggung, dan daftar properti yang harus disiapkan.
  7. Tema: adalah sesuatu yang menjadi pikiran atau sesuatu yang menjadi persoalan.
  8. Tokoh dalam drama disebut tokoh rekaan yang berfungsi sebagai pemegang peran watak tokoh. 

Tidak ada komentar: